Jumat, 05 Oktober 2012

Trawl ( Pukat Harimau )


MAKALAH
TRAWL ( PUKAT HARIMAU )



Disusun oleh :
Liya Tri Khikmawati
NIM.26010311130038




KEMENTRIAN PENDIDIKAN NASIONAL
UNIVERSITAS DIPONEGORO
FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN
2012




TRAWL ( PUKAT HARIMAU )
A.   Pendahuluan
Di Indonesia, pada tahun tujuh puluhan alat ini telah memberikan sumbangsih yang sangat besar dalam peningkatan produksi perikanan laut khususnya udang. Namun, karena berbagai dampak negatif yang ditimbulkan terutama terhadap kelestarian sumberdaya ikan dan pencaharian dengan nelayan tradisional sehingga bedasarkan Kepres no. 39 tahun 1980 penangkapan ikan dengan trawl di Indonesia dilarang. Sejak saat itu trawl hanya boleh dioperasikan oleh kapal-kapal peneliti.
Keluar dari permasalahan dilarangnya penangkapan menggunakan trawl, makalah ini tetap akan membahas mengenai alat tangkap trawl ( pukat harimau ). Hal ini dikarenakan trawl tetap dapat dioperasikan  di perairan Kawasan Timur Indonesia (Laut Banda, Laut Arafura, selatan Maluku, dan barat Irian Jaya). Untuk trawl khusus yang telah dimodifikasi pada bagian kantong,telah dilengkapi alat pemisah penyu (Turtle Excluder Device/TED). Selain itu trawl juga dapat digunakan untuk mengetahui tingkat kemiskinan dan lemahnya kemampuan usaha nelayan kecil, trawl dapat digunakan sebagai parameter sederhana, karena nelayan pengguna trawl mayoritas adalah nelayan kecil yang tidak bermodal, tidak punya alternatif, dan melakukan kegiatan usahanya semata-mata hanya untuk makan dan sekedar bertahan hidup.

B.   Permasalahan
Permasalahan yang diambil dalam makalah ini adalah :
1.      Apakah yang dimaksud dengan alat tangkap trawl (pukat harimau)?
2.      Jenis ikan apa saja yang tertangkap oleh trawl (pukat harimau)?

C.   Pembahasan
Berdasarkan permasalahan yang pennulis susun dalam makalah ini, dapat dijelaskan mengenai beberapa hal, diantaranya :
1.     Pengertian trawl ( pukat harimau )
Kata “ trawl “  berasaldari bahasa Perancis “ troler “ dan kata “ trailing “ adalah dalam bahasa Inggris, mempunyai arti yang bersamaan, dapat diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan kata “ tarik “ atau “ mengelilingi seraya menarik “. Ada yang menerjemahkan “ trawl “ dengan “ jaring tarik “, tetapi karena hampir semua jaring dalam operasinya mengalami perlakuan tarik ataupun ditarik, maka agar tidak membingungkan dan selama belum ada ketentuan resmi mengenai peristilahan dari yang berwenang, dalam pembahasan selanjutnya kita gunakan kata “ trawl “ saja ( Ayodhyoa,1981 ).
Dari kata “ trawl “ lahir kata rawling yang berarti kerja melakukan operasi penangkapan ikan dengan trawl“. Umumnya jaring terdiri dari kantong ( codend ) yang terbentuk empat persegi ataupun kerucut, dua lembar sayap ( wing ), dihubungkan dengan tali penarik ( warp ). Jaring ini ditarik horizontal di dalam air karena mendapat atau merima tahanan dari air mulut jaring terbuka. Keadaan ini diusahakan agar tetap terpelihara selama operasi dilakukan. Dalam mulut jaring yang dibatasi oleh head rope dan ground rope ini diharapkan agar ikan-ikan dan makhluk lain yangg menjadi tujuan penangkapan dapat masuk bersama air yang tersaring, dengan perkataan lain ikan-ikan dapat tertangkap. Dengan demikian, jaring bergerak aktif dan mengusahakan ( dengan ditarik ) agar ikan-ikan masuk kedalam mulutnya.
Semakin banyak air yang dapat tersaring, atau luas mulut jaring yang maksimum akan menjadikan jumlah volume air yang tersaring selama waktu penarikan menjadi lebih besar jumlahnya, sehingga jumlah tangkapan dapat sebanyak mungkin.
2.     Jenis-jenis trawl
Berdasarkan letak jaring dalam air selama dilakukan operasi penangkapan ikan, trawl dapat dibedakan atas
Ø  Surface trawl ( floating trawl )
Trawl yang dioperasikan di permukaan air. Jaring ditarik dekat permukaan air, dan ditujukan pada ikan-ikan yang hidup di permukaan air ( surface water ). Pada kenyataanya, operasi jenis-jenis trawl ini banyak mengalami kesukaran, ikan-ikan yang hidup di permukaan air termasuk ikan-ikan “good swimmer”. Dengan demikian, jaring harus ditarik dengan cepat melebihi swimming speed yang dimiliki oleh ikan yang akan ditangkap.
Ø  Mid water trawl
Trawl yang dioperasikan antara permukaan dan dasar perairan. Jaring ditarik pada depth tertentu secara horizontal, pada depth mana diduga merupakan swimming layer dari ikan-ikan yang menjadi tujuan penangkapan. Untuk menjaga agar mulut jaring tetap terbuka dan selalu berada dalam depth yang dimaksud, selama masa penarikan yang dilakukan dengan kecepatan tertentu.
Ø  Bottom trawl
Trawl yang dioperasikan di dasar laut. Jaring ini ditarik pada dasar atau dekat dasar laut, dengan demikian ikan yang menjadi tujuan penangkapan ialah ikan-ikan dasar ( bottom fish ) maupun demersal fish, termasuk udang-udangan dan kerang.
                        Berdasarkan segi operasinya dikenal ada tiga jenis trawl, yaitu :
Ø  Side trawl, yaitu trawl yang pada waktu operasinya ditarik pada sisi kapal.
Ø  Stern trawl, yaitu trawl yang ditarik pada bagian belakang kapal.
Ø  Double rig trawl, yaitu trawl yang ditarik melalui dua rigger yang dipasang ptada kedua lambung kapal.
Berdasarkan jumlah kapal yang digunakan untuk menarik trawl :
Ø  One boat trawl, yaitu trawl yang ditarik dengan sebuah kapal
Ø  Two boat trawl, yaitu trawl yang ditarik oleh dua buah kapal
Berdasarkan penggunaan alat untuk membuka mulut jaring, dikenal :
Ø  Bean trawl, yaitu trawl yang menggunakan bean ( bentangan )
Ø  Otter trawl, yaitu trawl yang menggunakan otter board untuk membuka mulut jaring
Di Indonesia dari jenis trawl tersebut diatas, hamper seluruhnya termauk bottom trawl dengan tujuan penangkapan adalah udang.
3.     Trawl dan Perlengkapannya
Kapal-kapal trawl umumnya terbuat dari steel, dan “ main enggine “ digerakkan oleh diesel maupun steam. Yang berukuran kecil, dibawah 1000 ton ada yang berbentuk side trawl, tetapi jenis ukuran besar terbentuk stern trawl.
Kapal diperlengkapi dengan trawl winch, sebagai tenaga penggerak, ada yang menggunakan steam engine ( 45-75 hP ) bagi steam trawl dan 60-90 hP bagi diesel trawl. Winch dihubungkan dengan warp dan untuk mengontrol panjang warp dipasang brake.
Besar jaring yang dipakai berbeda-beda dan untuk menyatakan besar jaring penunjuk“panjang dari head rope“ yang biasanya dengan satuan feet atau meter, misalnya jaring 120 feet. Berarti panjang head rope adalah 120 feet.
4.      Teknik operasi penangkapan
Seharusnya jaring ditarik dengan kecepatan yang besar, tetapi hal itu sukar untuk dicapai karena keadaan terbukanya mulut jaring, kekuatan kapal untuk menarik (HP), ketahanan jaring terhadap tahanan air, beban yang semakin bertambah.
Pada umumnya  jaring ditarik dengan kecepatan 3-4 knot. Kecepatan ini pun berhubungan pula dengan swimming speed dari ikan, keadaan dasar laut, arus, angin, gelombang, dan lain-lain.
Lama waktu penarikan didasarkan pada pengalaman-pengalaman dan faktor yang perlu dipikirkan ialah banyak sedikitnya ikan yang diduga akan tertangkap, pekerjaan di dek, jam kerja crew, dan lain sebagainya.pada umumnya waktu penarikan berkisar sekitar 3-4 jam dan kadang hanya memerlukan waktu 1-2 jam.
5.     Jenis-jenis ikan yang tertangkap
Tujuan penangkapan dari trawl ini adalah
Ø Ikan-ikan damersal, antara lain: ikan petek, ikan kurisi, ikan layur, ikan bambangan, ikan beloso,ikan sebelah, ikan lidah, ikan manyung, ikan gulamah,ikan pari, uding, kepitang, kerang,cumi-cumi,dll
Ø Pelagis kecil, antara lain : ikan kembung, ikan lemuru, ikan laying,ikan tenggiri,ikan tongkol,dll
Ø Pelagis besar, antara lain : ika tuna, ikan cakalang, ikan marlin, dan ikan layaran.
Ikan pelagis besar tersebar didaerah perairan ZEE di Samudera Indonesia, Laut Bandu dan Samudera Pasifik.





Tidak ada komentar:

Poskan Komentar