Binatang karang berkembang biak secara generatif dan vegetatif.
Perkembangbiakan generatif terjadi setelah sperma yang dilepaskan oleh
polip induk jantan mencapai telur pada polip berkelamin betina maka
terbentuklah planula. Sebelum mendapatkan substrat yang cocok, planula bersifat
plaktonik. Planula mengalami proses metaformosa membentuk kerangka dan
sekat-sekat polip. Perkembangbiakan vegetatif ditandai dengan bertambahnya
ukuran koloni karena terbentuknya tunas-tunas baru pada induk (Yulianda, 2003).
Sebagian besar hewan karang hidup dalam bentuk koloni, dan sebaliknya sebagian
kecil hidup dalam bentuk soliter. Individu karang sendiri disebut dengan polip,
jadi karang bentuk soliter dikatakan juga karang berbentuk tunggal, seperti
yang dijumpai pada karang jenis fungia (Thamrin, 2006).
Sebagian besar kebutuhan energi dan makan karang tergantung pada simbionnya zooxanthellae yang
hidup dalam jaringan endodermis karang. Karang mengonsumsi plakton pada umumnya
pada malam hari, namun kebutuhan dalam memangsa tersebut sangat terbatas ( Thamrin,
2006).
2.1.
Klasifikasi Karang
Terumbu karang merupakan endapan masif kalsium karbonat (CaCO3) yang
dihasilkan oleh binatang karang yang menurut klasifikasinya sebagai berikut:
Filum :
Cnidaria
Klas : Anthozoa
Subkelas : Hexacorallia,
Ordo : Scleractinia.
Terdapat dua kelompok binatang karang, yaitu karang hermatypic (hermatypic
coral) dan karang ahermatypic (ahermatypic coral) (Yulianda,
2003).
Menurut (Sya’rani, 1982 dalam Yulianda 2003) Berdasarkan letak keberadaannya,
terumbu karang terbagi menjadi tiga tipe yaitu :
1.
Terumbu karang pantai (Fringing
Reef), terumbu karang ini bisa di jumpai di sepanjang pantai (sejajar
pantai) pada perairan yang tidak dalam, dan umumnya di lokasi yang tembus sinar
matahari, kondisi kadar garam (salinitas) yang konstan serta kondisi oksigen
dan temperatur yang tepat untuk tumbuh.
2.
Terumbu karang penghalang (Barrier
reef), terumbu karang ini tumbuh sejajar pantai dan jauh dari pantai.
Biasanya di pisahkan oleh perairan yang dalam (laguna).
3.
Terumbu karang cincin ( atolls ), terumbu karang ini mempunyai
bentuk yang spesifik yang tumbuh melingkar ( cilcular ), sedangkan 2 tipe terumbu karang terdahulu lurus sejajar
garis pantai ( linier ). Terumbu
karang cincin ( atolls ) ini biasanya
tumbuh melingkar dan dipisahkan oleh perairan dalam ( laguna ).
2.2. Faktor
pembatas
Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi pertumbuhan
terumbu karang diantaranya:
2.2.1 Suhu
Pertumbuhan karang hermatyfic tumbuh dan
berkembang dengan subur antara suhu 25ºC sampai 29ºC batasan termperatur
minimum untuk terumbu karang sudah jelas yaitu pada suhu dingin 18ºC pada pada
suhu panas yaitu 32ºC (Thamrin, 2006).
2.2.2 Salinitas
Kisaran salinitas pada umumnya karang masih ditemukan antara 27‰
sampai 36‰, beberapa jenis karang yang tahan terhadap salinitas yang tinggi
adalah jenis acropora dan porites. Salinitas terendah
yang bisa ditolerir karang sekitar 27‰, namun akan tetapi pada
dasarnya tergantung lingkungan dimana organisme karang berada, karena
adakalanya pada saat-saat tertentu berbagai jenis karang juga nasih di temukan
pada salinitas sampai mendekati 0‰ (Thamrin, 2006).
2.2.3 Cahaya
Cahaya dibutuhkan karang dalam bentuk hubungan
tidak langsung. Pada prinsipnya cahaya dibutuhkan pada saat simbiosis dengan
alga zooxanthelae yang hidup dijaring tubuh karang hermatyfic yang
merupakan penyuplai utama kebutuhan hidup karang. Sementara karang ahermatyfic tidak
membutuhkan cahaya sehingga dapat hidup pada setiap kedalaman (Thamrin, 2006).
2.2.4 Kedalaman
Karang hermatyfic ditemukan dari daerah permukaan
atau dari daerah intertidal sampai kedalaman 70 m, akan tetapi pada umumnya
ditemukan sampai kedalaman 50 m. Sebagian besar hidup dengan subur sampai
kedalaman 20 m, dan lebih rinci lagi keanekaragaman spesies dan pertumbuhan
terbaik ditemukan pada kedalaman antara 3 m sampai 10 m (Thamrin, 2006).
2.2.5 Arus ( Pergerakan air)
Peranan utama pergerakan air bagi organisme perairan adalah
hubungan dengan penyediaan oksigen dan makanan. Bagi karang penyuplai nutrien
terbesar berasal dari simbionnya zooxanthellae, namun arus
diperlukan karang dalam memperoleh makanan dalam bentuk plakton dan oksigen
serta dalam membersihkan sediment yang berada di permukaan karang (Thamrin,
2006).
2.2.6 Substrat
Secara umum pasir halus atau substrat halus yang bergerak
serta dasar perairan berlumpur tidak menjadi substrat target bagi planula
karang dalam penempelan. Substrat termasuk faktor pembatas sangat penting bagi
karang, karena dalam fase hidup karang hanya bebas bergerak dalam jumlah waktu
terbatas terutama pada saat larva planula (Thamrin, 2006).
2.2.7
Kecerahan perairan
Kecerahan
perairan sebenarnya berhubungan dengan padatan tersuspensi dan cahaya
yang sampai kedalam perairan. Intensitas yang masuk dalam perairan akan semakin
besar dan semakin dalam bila perairan memiliki tingkat kecerahan yang tinggi.
Bila padatan tersuspensi tinggi menyebabkan tingkat kekeruhan juga tinggi, yang
mengakibatkan cahaya yang masuk kedalam perairan sangat terbatas (Thamrin,
2006).
2.2.8
Pengendapan
kapur
Pengendapan kapur dapat berasal dari
penebangan pohon yang dapat mengakibatkan pengikisan tanah (erosi)
yang akan terbawa kelaut dan menutupi karang sehingga karang tidak dapat
tumbuh karena sinar matahari tertutup oleh sedimen.
2.2.9
Berbagai jenis limbah dan sampah
Bahan pencemar bisa berasal dari berbagai sumber,
diantaranya adalah limbah pertanian, perkotaan, pabrik,
pertambangan dan perminyakan.
2.2.10
Uji coba senjata militer
Pengujian bahan peledak dan nuklir di laut serta kebocoran dan
buangan reaktor nuklir menyebabkan radiasi di laut, bahan radio aktif
tersebut dapat bertahan hingga ribuan tahun yang berpotensi meningkatkan
jumlah kerusakan dan perubahan genetis (mutasi) biota laut.
2.2.11
Uji coba
senjata militer
Pengujian bahan
peledak dan nuklir di laut serta kebocoran dan buangan reaktor nuklir
menyebabkan radiasi di laut, bahan radio aktif tersebut dapat bertahan
hingga ribuan tahun yang berpotensi meningkatkan jumlah kerusakan dan
perubahan genetis (mutasi) biota laut.
2.2.12
Cara
tangkap yang merusak
Cara
tangkap yang merusak lingkungan antara lain penggunaan muro – ami, racun, dan
bahan peledak.
2.2.13
Penambangan
dan pengambilan karang
Penambangan
dan pengambilan karang umumnya digunakan sebagai bahan bangunan. Penambahan
karang berpotensi menghancurkan ribuan meter persegi terumbu dan mengubah
terumbu menjadi gurun pasir bawah air.
2.2.14
Penambatan jangkar dan berjalan pada
terumbu.
Nelayan dan wisatawan seringkali
menambatkan jangkar perahu pada terumbu karang. Jangkar yang dijatuhkan dan
ditarik diantara karang maupun hempasan rantainya yang sangat merusak koloni
karang.
2.2.15
Serangan bintang laut berduri
Bintang laut
berduri adalah sejenis bintang laut besar pemangsa karang yang permukaannya
dipenuhi duri. Ia makan karang dengan cara menjulurkan bagian perutnya ke arah
koloni karang untuk kemudian mencerna dan membungkus poolip – polip karang
dipermukaan koloni tersebut.
Sumber terbesar dari kematian
terumbu masif adalah perusakan mekanik oleh badai tropik yang hebat. Topan atau
angin puyuh yang kuat ketika melalui suatu wilayahterumbu sering merusak daerah yang luas
di terumbu karang. Sumber kedua terbesar yang
menyebabkan bencana kematian terumbu, adalah ledakan Acanthaster planci
(bintang bulu seribu) akibat adanya kegiatan pengerukan dan beberapa bahan
kimia (pestisida) membuka ruangan baru bagi Acanthaster planci muda, ledakan
populasi juga diakibatkan oleh kegiatan manusia yang memindahkan predator utama
bulu seribu yaitu Charonia tritonis untuk diambil cangkangnya. ( Nybakken, 1988 )
Penyakit yang biasanya menyerang
karang disebut sebagai White band disease dan Blank band disease atau penyakit gelang putih,
ditandai dengan memutihnya sebagian koloni terumbu. Hal ini disebabkan
oleh serangan bakteri. Penyakit yang disebabkan oleh bakteri dipicu oleh
kondisi lingkungan yang tidak normal seperti pencemaran dan kenaikan suhu air
laut (Akmal 2002).
Beban
nutrient yang berlebihan menyebabkan berkembangnya alga secara berlebihan
(eutrofikasi) sehingga dapat menutupi dan membunuh organisme coral atau
timbulnya blooming dari fitoplakton (Dahuri, dkk 2004) Akmal (2002)
mengungkapkan hubungan antara pemanasan global, penipisan ozon dan terumbu karang
mengakibatkan tingkat karbondioksida meningkat secara kimiawi akan menghambat
pertumbuhan bunga karang oleh polip-polip. Perubahan suhu menimbulkan pemutihan
karang pada musim panas.
2.3. Bentuk-bentuk
Pertumbuhan Karang
Suatu
jenis karang dari genus yang sama dapat mempunyai bentuk pertumbuhan yang
berbeda pada lokasi pertumbuhan.
Menurut
English et al., (1994) bentuk pertumbuhan karang keras terbagi
atas karang Acropora dan karang non-Acropora. Karang
non-Acropora terdiri atas:
1. Coral
Branching (CB), memiliki cabang lebih panjang daripada diameter
yang dimiliki.
2.
Coral massive (CM), berbentuk
seperti bola dengan ukuran yang bervariasi, permukaan karang halus dan padat.
Dapat mencapai ukuran tinggi dan lebar sampai beberapa meter.
3.
Coral encrusting (CE), tumbuh
menyerupai dasar terumbu dengan permukaan yang kasar dan keras serta
berlubang-lubang kecil.
4.
Coral
submassive (CS),
cenderung untuk membentuk kolom kecil, wedge-like.
5.
Coral
foliose (CF),
tumbuh dalam bentuk lembaran-lembaran yang menonjol yang pada dasar terumbu,
berukuran kecil dan membentuk lipatan atau melingkar.
6.
Coral
Mushroom (CMR),
berbentuk oval dan tampak seperti jamur, memiliki banyak tonjolan seperti
punggung bukit beralur dari tepi hingga pusat mulut.
7.
Coral
millepora, (CME),
yaitu karang api.
8.
Coral
heliopora (CHL),
yaitu karang biru.
Untuk
karang jenis Acropora menurut
English et al., (1994) menggolongkan karang sebagai
berikut:
1.
Acropora
branching (ACB),
berbentuk bercabang seperti ranting pohon.
2.
Acropora
encrusting (ACE),
bentuk mengerak, biasanya terjadi pada Acroporayang belum sempurna.
3.
Acropora
tabulate (ACT),
bentuk bercabang dengan arah mendatar dan rata seperti meja.
4.
Acropora
submassive (ACS),
percabangan bentuk gada/lempeng dan kokoh.
5.
Acropora
digitate, (ACD),
bentuk percabangan rapat dengan cabang seperti jari-jari tangan.
2.4.
Kerusakan Ekosistem Terumbu Karang
Ekosistem terumbu karang mempunya potensi ekonomi yang
sangat besar mendorong pengambilan sumberdaya yang
dikandungnya secara berlebihan ( over exploitation )serta
kurang mengindahkan kaidah-kaidah konservasi. Karena adanya asumsi bahwa
sumberdaya yang berada di ekosistem terumbu karang adalah milik bersama ( common property ), sehingga bila mereka
tidak memanfaatkannya pada saat ini, maka akan dimanfaatkan orang lain ( tragedy
of common ). Untuk mengeksploitasi sumberdaya hayati tersebut, sebagian
besar dari mereka menggunakan racun cyanida,
bahan peledak, muro ami, dan bubu yang semuanya itu merusak ekosistem terumbu
karang. Para pengguna racun Cyanida umumnya bermaksud
menangkap ikan karang untuk dipasarkan dalam keadaan hidup di negara tertentu,
sehingga mereka membentuk jaringan penangkap dan pemasaran secara
internasional. Sedang ikan-ikan yang dibom biasanya mati dan
mengalami kehancuran sehingga perlu dipasarkan dalam skala propinsi, regional
atau nasional.
Aktivitas wisata bahari, seperti
penyelam juga memberikan kontribusi terhadap laju kerusakan akibat jangkar
perahu atau terinjak penyelam pemula. Intensifikasi
pertanian di DAS Hulu, akan meningkatkan laju erosi tanah dan sedimentasi
kelaut. Jika tidak ada ekosistem mangrove yang efektif menyerap sedimen tanah,
maka proses sedimentasi ini akan menutupi permukaan karang sehingga karangnya
mati. Kegiatan pembangunan dipesisir sekitar ekosistem terumbu
karang juga menimbulkan dampak negatif yang mengganggu
kelestariannya, seperti kegiatan reklamasi di Teluk Manado dan Teluk Lampung,
serta daerah-daerah lainnya.
Beberapa aktivitas manusia yang
dapat merusak terumbu karang:
ü
Membuang sampah ke
laut dan pantai yang dapat mencemaari ir laut
ü
Membawa pulang ataupun
menyentuh terumbu karang saat menyelam, satu sentuhan saja dapat membunuh
terumbu karang
ü
Pemborosan air, semakin
banyak air yang digunakan maka semakin banyak pula limbah air yang
dihasilkan dan dibuang ke laut.
ü
Pengunaan pupuk dan
pestisida buatan, seberapapun jauh letak pertanian tersebut dari laut residu
kimia dari pupuk dan pestisida buatan pada akhinya akan terbuang ke laut juga.
ü
Membuang jangkar pada
pesisir pantai secara tidak sengaja akan merusak terumbu karang yang berada di
bawahnya.
ü Penambangan
ü Pembangunan pemukiman
ü Reklamasi pantai
ü Polusi
Penangkapan ikan dengan
cara yang salah, seperti pemakaian bom ikan
DAFTAR PUSTAKA
English,S.,C.
Wilkinson dan V. Baker. 1994. Survey
Manual for Tropical Marine.
Nybakken,
1994. Biologi Laut Sebagai Suatu
Pendekatan Ekologis. Jakarta : Gramedia
Thamrin. 2006. Karang : Biologi
Reproduksi & Ekologi. Pekanbaru.
Minamandiri Pres.
Yulianda, Ferdinan. 2003. Pengelolaan
Terumbu Karang Di Kawasan Wisata Bahari. Fakultas Perikanan dan Ilmu
Kelautan. Institut Pertanian Bogor.
http://jemiferizal.blogspot.com/2010/11/proposal-penelitian-terumbu-karang_09.html
diakses pada rabu 20 juni 2012 pukul 00.42 wib
http://noaapoerba.wordpress.com/2009/05/09/terumbu-karang-dalam-perspektif-perubahan-iklim/
diakses pada rabu 20 juni2012 pukul 00.44 wib
http://www.walhi.or.id/en/ruang-media/walhi-di-media/berita-laut-dan-pesisir/2471-terumbu-karang-bangka-rusak.html
diakses pada rabu 20 juni 2012 pukul 00.46 wib
http://kvp2131tika.wordpress.com/coral/faktor-kerusakan/
diakses pada rabu 20 juni 2012 pukul 00.48 wib
http://www.coremap.or.id/berita/article.php?id=1053
diakses pada rabu 20 juni 2012 pukul 00.49 wib
Tidak ada komentar:
Posting Komentar