Sabtu, 06 Oktober 2012

Karang



Binatang karang berkembang biak secara generatif dan vegetatif. Perkembangbiakan  generatif terjadi setelah sperma yang dilepaskan oleh polip induk jantan mencapai telur pada polip berkelamin betina maka terbentuklah planula. Sebelum mendapatkan substrat yang cocok, planula bersifat plaktonik. Planula mengalami proses metaformosa membentuk kerangka dan sekat-sekat polip. Perkembangbiakan vegetatif ditandai dengan bertambahnya ukuran koloni karena terbentuknya tunas-tunas baru pada induk (Yulianda, 2003).
            Sebagian besar hewan karang hidup dalam bentuk koloni, dan sebaliknya sebagian kecil hidup dalam bentuk soliter. Individu karang sendiri disebut dengan polip, jadi karang bentuk soliter dikatakan juga karang berbentuk tunggal, seperti yang dijumpai pada karang jenis fungia (Thamrin, 2006).
            Sebagian besar kebutuhan energi dan makan karang tergantung pada simbionnya zooxanthellae yang hidup dalam jaringan endodermis karang. Karang mengonsumsi plakton pada umumnya pada malam hari, namun kebutuhan dalam memangsa tersebut sangat terbatas ( Thamrin, 2006).
2.1.      Klasifikasi Karang                     
            Terumbu karang merupakan endapan masif kalsium karbonat (CaCO3) yang dihasilkan oleh binatang karang yang menurut klasifikasinya sebagai berikut:
            Filum : Cnidaria
                        Klas : Anthozoa
                                    Subkelas : Hexacorallia,
                                                Ordo : Scleractinia.
            Terdapat dua kelompok binatang karang, yaitu karang hermatypic (hermatypic coral) dan karang ahermatypic (ahermatypic coral) (Yulianda, 2003).                  
            Menurut (Sya’rani, 1982 dalam Yulianda 2003) Berdasarkan letak keberadaannya, terumbu karang terbagi menjadi tiga tipe yaitu :
1.      Terumbu karang pantai (Fringing Reef), terumbu karang ini bisa di jumpai di sepanjang pantai (sejajar pantai) pada perairan yang tidak dalam, dan umumnya di lokasi yang tembus sinar matahari, kondisi kadar garam (salinitas) yang konstan serta kondisi oksigen dan temperatur yang tepat untuk tumbuh.    
2.      Terumbu karang penghalang (Barrier reef), terumbu karang ini tumbuh sejajar pantai dan jauh dari pantai. Biasanya di pisahkan oleh perairan yang dalam (laguna).
3.      Terumbu karang cincin ( atolls ), terumbu karang ini mempunyai bentuk yang spesifik yang tumbuh melingkar ( cilcular ), sedangkan 2 tipe terumbu karang terdahulu lurus sejajar garis pantai ( linier ). Terumbu karang cincin ( atolls ) ini biasanya tumbuh melingkar dan dipisahkan oleh perairan dalam ( laguna ).
2.2.      Faktor pembatas
            Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi pertumbuhan terumbu karang diantaranya:
2.2.1    Suhu
            Pertumbuhan karang hermatyfic tumbuh dan berkembang dengan subur antara suhu 25ºC sampai 29ºC batasan termperatur minimum untuk terumbu karang sudah jelas yaitu pada suhu dingin 18ºC pada pada suhu panas yaitu 32ºC (Thamrin, 2006).
2.2.2    Salinitas 
            Kisaran salinitas pada umumnya karang masih ditemukan antara 27‰ sampai 36‰, beberapa jenis karang yang tahan terhadap salinitas yang tinggi adalah jenis acropora dan porites. Salinitas terendah yang bisa ditolerir karang sekitar 27‰namun akan tetapi pada dasarnya tergantung lingkungan dimana organisme karang berada, karena adakalanya pada saat-saat tertentu berbagai jenis karang juga nasih di temukan pada salinitas sampai mendekati 0‰ (Thamrin, 2006).
2.2.3    Cahaya
            Cahaya dibutuhkan karang dalam bentuk hubungan tidak langsung. Pada prinsipnya cahaya dibutuhkan pada saat simbiosis dengan alga zooxanthelae yang hidup dijaring tubuh karang hermatyfic yang merupakan penyuplai utama kebutuhan hidup karang. Sementara karang ahermatyfic tidak membutuhkan cahaya sehingga dapat hidup pada setiap kedalaman (Thamrin, 2006).
2.2.4    Kedalaman
            Karang hermatyfic ditemukan dari daerah permukaan atau dari daerah intertidal sampai kedalaman 70 m, akan tetapi pada umumnya ditemukan sampai kedalaman 50 m. Sebagian besar hidup dengan subur sampai kedalaman 20 m, dan lebih rinci lagi keanekaragaman spesies dan pertumbuhan terbaik ditemukan pada kedalaman antara 3 m sampai 10 m (Thamrin, 2006).
2.2.5    Arus ( Pergerakan air)
            Peranan utama pergerakan air bagi organisme perairan adalah hubungan dengan penyediaan oksigen dan makanan. Bagi karang penyuplai nutrien terbesar berasal dari simbionnya zooxanthellae, namun arus diperlukan karang dalam memperoleh makanan dalam bentuk plakton dan oksigen serta dalam membersihkan sediment yang berada di permukaan karang (Thamrin, 2006).
2.2.6    Substrat
            Secara umum pasir halus atau substrat halus yang bergerak serta dasar perairan berlumpur tidak menjadi substrat target bagi planula karang dalam penempelan. Substrat termasuk faktor pembatas sangat penting bagi karang, karena dalam fase hidup karang hanya bebas bergerak dalam jumlah waktu terbatas terutama pada saat larva planula (Thamrin, 2006).
2.2.7           Kecerahan perairan
            Kecerahan perairan  sebenarnya berhubungan dengan padatan tersuspensi dan cahaya yang sampai kedalam perairan. Intensitas yang masuk dalam perairan akan semakin besar dan semakin dalam bila perairan memiliki tingkat kecerahan yang tinggi. Bila padatan tersuspensi tinggi menyebabkan tingkat kekeruhan juga tinggi, yang mengakibatkan cahaya yang masuk kedalam perairan sangat terbatas (Thamrin, 2006).
2.2.8          Pengendapan kapur                                                                                               Pengendapan kapur dapat berasal dari penebangan pohon yang dapat  mengakibatkan pengikisan tanah (erosi)  yang akan terbawa kelaut dan  menutupi karang sehingga karang tidak dapat tumbuh karena sinar matahari  tertutup oleh sedimen.
2.2.9        Berbagai jenis limbah dan sampah                                                                            Bahan pencemar bisa berasal dari berbagai sumber, diantaranya adalah limbah    pertanian, perkotaan, pabrik, pertambangan dan perminyakan.
2.2.10    Uji coba senjata militer                                                                                               Pengujian bahan peledak dan nuklir di laut serta kebocoran dan buangan reaktor  nuklir menyebabkan radiasi di laut, bahan radio aktif tersebut dapat bertahan  hingga ribuan tahun yang berpotensi meningkatkan jumlah kerusakan dan  perubahan genetis (mutasi) biota laut.
2.2.11    Uji coba senjata militer                                                                                               Pengujian bahan peledak dan nuklir di laut serta kebocoran dan buangan reaktor  nuklir menyebabkan radiasi di laut, bahan radio aktif tersebut dapat bertahan  hingga ribuan tahun yang berpotensi meningkatkan jumlah kerusakan dan  perubahan genetis (mutasi) biota laut.
2.2.12    Cara tangkap yang merusak
            Cara tangkap yang merusak lingkungan antara lain penggunaan muro – ami, racun, dan bahan peledak.
2.2.13    Penambangan dan pengambilan karang
            Penambangan dan pengambilan karang umumnya digunakan sebagai bahan bangunan. Penambahan karang berpotensi menghancurkan ribuan meter persegi terumbu dan mengubah terumbu menjadi gurun pasir bawah air. 
2.2.14    Penambatan jangkar dan berjalan pada terumbu.
            Nelayan dan wisatawan seringkali menambatkan jangkar perahu pada terumbu karang. Jangkar yang dijatuhkan dan ditarik diantara karang maupun hempasan rantainya yang sangat merusak koloni karang.
2.2.15    Serangan bintang laut berduri
Bintang laut berduri adalah sejenis bintang laut besar pemangsa karang yang permukaannya dipenuhi duri. Ia makan karang dengan cara menjulurkan bagian perutnya ke arah koloni karang untuk kemudian mencerna dan membungkus poolip – polip karang dipermukaan koloni tersebut.
            Sumber terbesar dari kematian terumbu masif adalah perusakan mekanik oleh badai tropik yang hebat. Topan atau angin puyuh yang kuat ketika melalui suatu wilayahterumbu sering merusak daerah yang luas di terumbu karang. Sumber kedua terbesar yang menyebabkan bencana kematian terumbu, adalah ledakan Acanthaster planci (bintang bulu seribu) akibat adanya kegiatan pengerukan dan beberapa bahan kimia (pestisida) membuka ruangan baru bagi Acanthaster planci muda, ledakan populasi juga diakibatkan oleh kegiatan manusia yang memindahkan predator utama bulu seribu yaitu Charonia tritonis untuk diambil cangkangnya. ( Nybakken, 1988 )
            Penyakit yang biasanya menyerang karang disebut sebagai White band disease dan Blank band disease atau penyakit gelang putih, ditandai dengan memutihnya sebagian koloni terumbu. Hal ini disebabkan oleh serangan bakteri. Penyakit yang disebabkan oleh bakteri dipicu oleh kondisi lingkungan yang tidak normal seperti pencemaran dan kenaikan suhu air laut (Akmal 2002).
            Beban nutrient yang berlebihan menyebabkan berkembangnya alga secara berlebihan (eutrofikasi) sehingga dapat menutupi dan membunuh organisme coral atau timbulnya blooming dari fitoplakton (Dahuri, dkk 2004) Akmal (2002) mengungkapkan hubungan antara pemanasan global, penipisan ozon dan terumbu karang mengakibatkan tingkat karbondioksida meningkat secara kimiawi akan menghambat pertumbuhan bunga karang oleh polip-polip. Perubahan suhu menimbulkan pemutihan karang pada musim panas.
2.3.      Bentuk-bentuk Pertumbuhan Karang
            Suatu jenis karang dari genus yang sama dapat mempunyai bentuk pertumbuhan yang berbeda pada lokasi pertumbuhan.
            Menurut English et al., (1994) bentuk pertumbuhan karang keras terbagi atas karang Acropora dan karang non-Acropora. Karang non-Acropora terdiri atas:
1.      Coral Branching (CB), memiliki cabang lebih panjang daripada diameter yang dimiliki.
2.      Coral massive (CM), berbentuk seperti bola dengan ukuran yang bervariasi, permukaan karang halus dan padat. Dapat mencapai ukuran tinggi dan lebar sampai beberapa meter.
3.      Coral encrusting (CE), tumbuh menyerupai dasar terumbu dengan permukaan yang kasar dan keras serta berlubang-lubang kecil.
4.      Coral submassive (CS), cenderung untuk membentuk kolom kecil, wedge-like.
5.      Coral foliose (CF), tumbuh dalam bentuk lembaran-lembaran yang menonjol yang pada dasar terumbu, berukuran kecil dan membentuk lipatan atau melingkar.
6.      Coral Mushroom (CMR), berbentuk oval dan tampak seperti jamur, memiliki banyak tonjolan seperti punggung bukit beralur dari tepi hingga pusat mulut.
7.      Coral millepora, (CME), yaitu karang api.
8.      Coral heliopora (CHL), yaitu karang biru.
            Untuk karang jenis Acropora menurut English et al., (1994) menggolongkan karang sebagai berikut:
1.      Acropora branching (ACB), berbentuk bercabang seperti ranting pohon.
2.      Acropora encrusting (ACE), bentuk mengerak, biasanya terjadi pada Acroporayang belum sempurna.
3.      Acropora tabulate (ACT), bentuk bercabang dengan arah mendatar dan rata seperti meja.
4.      Acropora submassive (ACS), percabangan bentuk gada/lempeng dan kokoh.
5.      Acropora digitate, (ACD), bentuk percabangan rapat dengan cabang seperti jari-jari tangan.
2.4.      Kerusakan Ekosistem Terumbu Karang
            Ekosistem terumbu karang mempunya potensi ekonomi yang sangat besar mendorong pengambilan sumberdaya yang dikandungnya  secara berlebihan ( over exploitation )serta kurang mengindahkan kaidah-kaidah konservasi. Karena adanya asumsi bahwa sumberdaya yang berada di ekosistem terumbu karang adalah milik bersama ( common property ), sehingga bila mereka tidak memanfaatkannya pada saat ini, maka akan dimanfaatkan orang lain ( tragedy of common ). Untuk mengeksploitasi sumberdaya hayati tersebut, sebagian besar dari mereka menggunakan racun cyanida, bahan peledak, muro ami, dan bubu yang semuanya itu merusak ekosistem terumbu karang.  Para pengguna racun Cyanida umumnya  bermaksud menangkap ikan karang untuk dipasarkan dalam keadaan hidup di negara tertentu, sehingga mereka membentuk jaringan penangkap dan pemasaran secara internasional.  Sedang ikan-ikan yang dibom biasanya mati dan mengalami kehancuran sehingga perlu dipasarkan dalam skala propinsi, regional atau nasional.
            Aktivitas wisata bahari, seperti penyelam juga memberikan kontribusi terhadap laju kerusakan akibat jangkar perahu atau terinjak penyelam pemula. Intensifikasi pertanian di DAS Hulu, akan meningkatkan laju erosi tanah dan sedimentasi kelaut. Jika tidak ada ekosistem mangrove yang efektif menyerap sedimen tanah, maka proses sedimentasi ini akan menutupi permukaan karang sehingga karangnya mati.  Kegiatan pembangunan dipesisir sekitar ekosistem terumbu karang  juga menimbulkan dampak negatif yang mengganggu kelestariannya, seperti kegiatan reklamasi di Teluk Manado dan Teluk Lampung, serta daerah-daerah lainnya.
            Beberapa aktivitas manusia yang dapat merusak terumbu karang:
ü  Membuang sampah ke laut dan pantai yang dapat mencemaari ir laut
ü  Membawa pulang ataupun menyentuh terumbu karang saat menyelam, satu sentuhan saja dapat membunuh terumbu karang
ü  Pemborosan air, semakin banyak air yang digunakan maka semakin banyak pula limbah air yang dihasilkan dan dibuang ke laut.
ü  Pengunaan pupuk dan pestisida buatan, seberapapun jauh letak pertanian tersebut dari laut residu kimia dari pupuk dan pestisida buatan pada akhinya akan terbuang ke laut juga.
ü  Membuang jangkar pada pesisir pantai secara tidak sengaja akan merusak terumbu karang yang berada di bawahnya.
ü  Penambangan
ü  Pembangunan pemukiman
ü  Reklamasi pantai
ü  Polusi
Penangkapan ikan dengan cara yang salah, seperti pemakaian bom ikan











DAFTAR PUSTAKA

            English,S.,C. Wilkinson dan V. Baker. 1994. Survey Manual for Tropical Marine.
                   
            Nybakken, 1994. Biologi Laut Sebagai Suatu Pendekatan Ekologis. Jakarta : Gramedia
           
            Thamrin. 2006. Karang : Biologi Reproduksi & EkologiPekanbaru. Minamandiri Pres.

            Yulianda, Ferdinan. 2003. Pengelolaan Terumbu Karang Di Kawasan Wisata Bahari. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan. Institut Pertanian Bogor.

            http://jemiferizal.blogspot.com/2010/11/proposal-penelitian-terumbu-karang_09.html diakses pada rabu 20 juni 2012 pukul 00.42 wib

            http://noaapoerba.wordpress.com/2009/05/09/terumbu-karang-dalam-perspektif-perubahan-iklim/ diakses pada rabu 20 juni2012 pukul 00.44 wib

            http://www.walhi.or.id/en/ruang-media/walhi-di-media/berita-laut-dan-pesisir/2471-terumbu-karang-bangka-rusak.html diakses pada rabu 20 juni 2012 pukul 00.46 wib

            http://kvp2131tika.wordpress.com/coral/faktor-kerusakan/ diakses pada rabu 20 juni 2012 pukul 00.48 wib

            http://www.coremap.or.id/berita/article.php?id=1053 diakses pada rabu 20 juni 2012 pukul 00.49 wib
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar